
Suarasatu.co, Anambas – Krisis air bersih mulai dirasakan warga di Kabupaten Kepulauan Anambas setelah debit air di dua waduk utama turun drastis akibat musim kemarau.
Kondisi ini memaksa pemerintah daerah memangkas jadwal distribusi air, terutama di wilayah perkotaan Tarempa dan sekitarnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Anambas, Andyguna Hasibuan mengungkapkan, penurunan kapasitas air baku kini sudah berada pada level kritis.
Bahkan, cadangan air diperkirakan hanya mampu bertahan dalam waktu terbatas jika tidak ada perubahan cuaca.
“Debit air di sumber air baku kita saat ini sudah dalam kondisi kritis. Waduk Gunung Samak yang normalnya menampung 60 ribu meter kubik, kini tersisa sekitar 15 ribu meter kubik,” ujar Andyguna saat diwawancara di kantornya, Rabu (1/4/2026).
Tak hanya Waduk Gunung Samak, kondisi serupa juga terjadi di Waduk Gunung Lintang. Dari kapasitas normal 20 ribu meter kubik, kini hanya tersisa sekitar 4 ribu meter kubik.
Penurunan drastis ini berdampak langsung pada pelayanan air bersih ke masyarakat. Sejumlah wilayah di Pulau Siantan, khususnya kawasan Tarempa, mulai mengalami pengurangan jadwal distribusi.
“Untuk wilayah Kelurahan Tarempa, Desa Tarempa Barat, dan Desa Sri Tanjung, jadwal pelayanan yang sebelumnya dua hari sekali kini menjadi tiga sampai empat hari sekali,” jelasnya.
Tidak hanya frekuensi distribusi yang dikurangi, durasi aliran air juga dipangkas.
Jika sebelumnya air mengalir selama dua jam pada pagi dan sore hari, kini hanya satu jam untuk setiap waktu pelayanan.
“Ini kami lakukan agar distribusi tetap berjalan merata dengan kapasitas air yang tersedia,” tambahnya.
Meski demikian, Andyguna memastikan pelayanan air bersih tetap diupayakan semaksimal mungkin dengan menyesuaikan kondisi yang ada.
“Kami tetap melayani kebutuhan air masyarakat, meskipun dengan jadwal yang disesuaikan,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi yang lebih buruk, PUPR telah menyiapkan langkah darurat jika cadangan air semakin menipis, termasuk distribusi air langsung ke warga.
“Jika sumber air semakin kering, kami akan menyiapkan hydrant umum atau toren air di titik-titik rawan. Kami juga akan berkolaborasi dengan dinas lain yang memiliki armada dan tangki air,” katanya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau di Anambas berpotensi berlangsung hingga tiga bulan ke depan.
Sementara hasil perhitungan sementara menunjukkan cadangan air bersih saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama dua hingga tiga minggu.
Kondisi ini juga dipengaruhi oleh karakteristik sumber air di Anambas yang sepenuhnya bergantung pada air permukaan, bukan dari cekungan air tanah.
“Sumber air baku di Anambas ini berasal dari cekungan air permukaan. Menurut BWS, wilayah ini tidak termasuk dalam cekungan air tanah,” jelas Andyguna.
Sementara itu, beberapa wilayah lain seperti Desa Tarempa Timur dan Desa Tarempa Selatan masih mendapatkan layanan normal tanpa pengurangan jadwal.
Pemerintah pun mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air di tengah ancaman krisis yang diperkirakan masih akan berlangsung cukup lama.
“Kami mengimbau masyarakat untuk berhemat dalam penggunaan air, karena kondisi kemarau ini diprediksi berlangsung lama,” pungkasnya.(Ven)
















