
Suarasatu.co, Anambas – Aparat kepolisian dari Polres Kepulauan Anambas bergerak cepat menyelidiki kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa di Kecamatan Siantan Tengah.
Sejak menerima laporan, jajaran kepolisian langsung turun ke lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), pendataan korban, serta meminta keterangan dari sejumlah saksi.
Langkah ini dilakukan guna memastikan penyebab pasti insiden yang sempat memicu kepanikan warga tersebut.
Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, menegaskan bahwa pihaknya saat ini masih fokus pada pengumpulan bahan keterangan di lapangan.
“Kami masih dalam proses pengumpulan bahan keterangan. Mohon waktu, nanti akan kami informasikan lebih lanjut,” ujarnya kepada Suarasatu.co, Kamis (16/4/2026).
Ia memastikan, penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh, untuk menelusuri penyebab dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut.
“Kami akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk menelusuri penyebab dugaan keracunan,” tegasnya.
Peristiwa ini membuat panik masyarakat Siantan Tengah setelah puluhan siswa dari berbagai jenjang pendidikan mendadak mengalami gejala sakit usai menyantap makanan di sekolah.
Para siswa mengeluhkan sakit perut, mual, muntah, hingga pusing.
Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan bergerak cepat mengevakuasi korban ke RSUD Palmatak untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Direktur RSUD Palmatak, Iswarijaya, mengungkapkan pihaknya menerima laporan pertama dari orang tua siswa pada sore hari.
“Kami menerima laporan sekitar pukul 15.00 WIB. Orang tua menyampaikan anak-anaknya mengalami sakit perut, pusing, dan muntah-muntah,” katanya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak rumah sakit langsung mengerahkan ambulans ke lokasi.
“Saya perintahkan staf membawa ambulans ke lokasi untuk menjemput pasien anak-anak itu agar segera ditangani di RSUD,” ujarnya.
Dari penelusuran awal, para korban diduga mengalami gejala tersebut setelah mengonsumsi makanan dari program MBG di sekolah.
“Informasi sementara yang kami terima, keluhan muncul setelah mereka mengonsumsi makanan dari sekolah,” ungkap Iswarijaya.
Jumlah korban yang dirawat terus bertambah. Awalnya hanya dilaporkan 11 orang, namun hingga malam hari meningkat drastis menjadi 73 pasien yang terdiri dari siswa TK/PAUD, SD, hingga SMP.
“Sekarang jumlah pasien yang masuk sudah mencapai 73 orang, dan masih berpotensi bertambah,” jelasnya.
Meski demikian, pihak rumah sakit belum dapat memastikan diagnosis akhir karena proses pemeriksaan masih berlangsung.
“Untuk diagnosis pasti belum bisa kami simpulkan, karena dokter masih melakukan pemeriksaan terhadap seluruh pasien,” ujarnya.
Namun, dugaan sementara mengarah pada keracunan makanan.
“Sementara ini kami mencurigai gejala yang dialami pasien berkaitan dengan keracunan setelah mengonsumsi makanan,” tambahnya.
Di sisi lain, fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas Siantan Tengah dilaporkan tidak mampu lagi menampung pasien akibat keterbatasan kapasitas.
“Informasinya puskesmas sudah penuh, karena sebagian besar pasien berasal dari wilayah tersebut,” ungkapnya.
Tak hanya siswa, sejumlah guru dan orang tua juga dilaporkan mengalami gejala serupa. Hingga saat ini, sedikitnya empat orang tua diduga turut terdampak.(Ven)
















