Suarasatu.co, Anambas – Gangguan pasokan listrik yang berulang di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menimbulkan risiko kerugian bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan.
Ketika listrik padam, penyimpanan ikan menjadi rentan terganggu dan hasil tangkapan nelayan terancam kehilangan nilai jual.
Persoalan ini menjadi perhatian Wakil Bupati Kepulauan Anambas Raja Bayu Febri Gunadian.
Ia menilai, keandalan listrik merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah kepulauan yang aktivitas usahanya bergantung pada ketersediaan fasilitas pendingin.
Bagi nelayan, perjalanan melaut membutuhkan modal, tenaga, dan waktu. Namun, seluruh usaha tersebut dapat berujung pada kerugian apabila hasil tangkapan tidak dapat disimpan dengan baik sebelum dipasarkan.
Dampaknya tidak berhenti pada nelayan, tetapi juga dapat merembet kepada pedagang ikan dan pelaku usaha kecil.
“Nelayan sudah mengeluarkan modal dan menghabiskan waktu di laut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jangan sampai hasil tangkapan yang mereka bawa pulang justru terancam rusak karena pasokan listrik tidak stabil. Persoalan ini harus ditangani secara serius,” kata Raja Bayu, Selasa (20/10/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang tidak sebatas memperbaiki gangguan ketika pemadaman terjadi.
Penyedia layanan listrik perlu mengevaluasi penyebab gangguan secara menyeluruh dan mengambil langkah untuk meningkatkan keandalan pasokan.
Keterbukaan informasi juga menjadi hal penting. Masyarakat, kata Raja Bayu, perlu memperoleh penjelasan mengenai penyebab pemadaman dan upaya perbaikan yang sedang dilakukan.
Informasi yang jelas dapat membantu warga dan pelaku usaha mempersiapkan diri menghadapi gangguan serta mengurangi risiko kerugian.
Di daerah kepulauan seperti Anambas, listrik memiliki peran strategis dalam menopang kegiatan ekonomi.
Pasokan yang tidak stabil dapat memengaruhi penyimpanan hasil laut, operasional perdagangan, hingga kelangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas, lanjut Raja Bayu, terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mendorong penyelesaian persoalan tersebut.
Pemerintah daerah juga berupaya mencari langkah mitigasi bagi kelompok masyarakat yang terdampak, termasuk nelayan dan pedagang ikan.
Namun, upaya mitigasi perlu berjalan seiring dengan perbaikan layanan agar masyarakat tidak terus menanggung dampak dari gangguan yang berulang.
Kepastian pasokan listrik menjadi semakin penting bagi pelaku usaha kecil yang memiliki keterbatasan modal untuk menutupi kerugian.
“Yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi nyata dan pasokan listrik yang bisa diandalkan. Mereka harus bisa bekerja, menjalankan usaha, dan mencari nafkah tanpa terus dihantui kekhawatiran akan pemadaman,” ujarnya.
Raja Bayu berharap pihak penyedia listrik segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.
Baginya, menjaga kestabilan listrik bukan sekadar memenuhi kebutuhan energi, melainkan juga melindungi hasil kerja masyarakat dan mempertahankan perputaran ekonomi daerah.
Di tengah ketergantungan masyarakat terhadap sektor perikanan, keandalan listrik menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga hasil tangkapan tetap layak jual dan usaha warga tetap berjalan.
Tanpa perbaikan yang berkelanjutan, gangguan pasokan berisiko terus menambah beban ekonomi masyarakat Anambas. (Adv)

















