Diduga Salah Pemberian Obat di RSUD Palmatak, ASN Anambas Lapor Polisi, Kini Sulit Berjalan

0
434
RSUD Palmatak, (Foto: Istimewa)

Suarasatu.co, Anambas – Harapan Adran untuk sembuh setelah menjalani perawatan akibat gigitan ular di RSUD Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas, justru berubah menjadi penderitaan panjang.

Aparatur Sipil Negara (ASN) berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) itu mengaku mengalami gangguan kesehatan serius yang diduga dipicu kesalahan pemberian obat saat dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja.

Merasa tak kunjung mendapat itikad baik maupun pertanggungjawaban, Adran bersama keluarganya akhirnya memilih menempuh jalur hukum dengan melaporkan dugaan tersebut ke Polsek Palmatak.

“Sebenarnya kami dari pihak keluarga tidak mau melaporkan kasus ini kepada polisi maupun wartawan. Kami hanya menunggu niat baik dari orang yang telah melakukan kesalahan. Tapi sampai sekarang tidak ada yang meminta maaf ataupun bertanggung jawab. Terpaksa kami melaporkan kasus ini ke Polsek Palmatak,” kata Adran, Senin (6/7/2026).

Peristiwa itu bermula ketika Adran dirawat di RSUD Palmatak setelah mengalami gigitan ular menjelang Ramadan 1447 Hijriah.

Namun, bukannya pulih, kondisi kesehatannya justru semakin memburuk hingga akhirnya dirujuk ke Batam.

Saat menjalani pemeriksaan lanjutan di RS Awal Bros Batam, dokter menemukan adanya penyempitan pembuluh darah di bagian kepala.

Menurut Adran, dokter juga menyampaikan bahwa kondisi yang dialaminya berkaitan dengan insiden dugaan salah pemberian obat saat dirawat di RSUD Palmatak.

Kini, aktivitasnya berubah drastis. Ia mengaku sering mengalami pusing, sulit tidur, kaki terasa lemas dan kebas, nyeri pinggang, hingga kesulitan buang air besar.

“Kalau yang saya rasakan sekarang, kaki terasa lemas, tidak bertenaga, kebas, pinggang sakit, kepala sering pusing, susah tidur, dan sulit BAB. Saya juga tidak bisa tidur dengan nyenyak,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, Adran mengaku sudah tidak mampu lagi bekerja secara normal sebagai ASN.

Di sisi lain, biaya pengobatan yang harus dijalani di luar daerah membuat kondisi ekonomi keluarganya semakin berat.

“Saya satu-satunya tulang punggung keluarga. Saya masih menanggung ibu saya, istri, dua anak yang masih kecil, dan biaya sekolah keponakan. Gaji saya tidak seberapa, ditambah sekarang harus berobat terus,” ungkapnya.

Di tengah beban tersebut, Adran mengaku paling terpukul karena hingga kini belum ada pihak yang datang untuk meminta maaf ataupun memberikan penjelasan.

Ia menduga gangguan kesehatan yang dialaminya berawal dari obat yang dimasukkan melalui infus saat menjalani perawatan.

Menurut pengakuannya, perawat tidak menjelaskan jenis obat yang diberikan. Setelah obat dimasukkan ke dalam infus, perawat disebut langsung meninggalkan ruangan tanpa memantau reaksi yang muncul pada tubuh pasien.

“Untung saya tidak meninggal. Kalau saya mati, siapa yang akan menafkahi ibu saya, istri saya, dan keluarga saya?” katanya.

Meski begitu, Adran mengaku belum bersedia menjelaskan secara lebih rinci mengenai kejadian tersebut karena saat dikonfirmasi kondisi kesehatannya masih belum memungkinkan.

Di sisi lain, Kepala Desa Langir, Hendrison, membenarkan bahwa Adran merupakan warganya sekaligus PPPK di RSUD Palmatak.

Ia mengetahui Adran sempat menjalani perawatan di RSUD Palmatak sebelum akhirnya dirujuk ke Batam karena kondisinya tidak kunjung membaik.

“Beberapa minggu lalu beliau sempat pulang ke sini. Saya lihat kondisinya sangat memprihatinkan. Jalannya sudah menggunakan tongkat. Saya kasihan melihat beliau,” ujar Hendrison.

Terkait dugaan salah pemberian obat, Hendrison mengaku pernah mendengar informasi tersebut. Namun, ia enggan memberikan komentar lebih jauh karena belum mengetahui fakta yang sebenarnya.

“Kalau soal isunya memang pernah dengar. Tapi untuk lebih detailnya saya no comment karena kita tidak punya bukti,” katanya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Palmatak, Aipda Olden Siahaan, membenarkan bahwa laporan dugaan tersebut telah diterima polisi sebagai laporan pengaduan masyarakat.

Menurutnya, penyidik masih melakukan penyelidikan sehingga belum dapat menyimpulkan apakah gangguan kesehatan yang dialami korban benar disebabkan oleh dugaan kesalahan pemberian obat atau faktor lainnya.

“Laporannya memang sudah masuk sekitar empat hari lalu. Saat ini masih tahap penyelidikan. Kami akan meminta keterangan dari pihak rumah sakit maupun dokter. Apakah ada kelalaian atau tidak, itu nanti akan dipastikan melalui proses penyelidikan,” kata Olden. (Ven)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini