MoU Pemkab Anambas dan Anambas Foundation, Dorong Ekonomi Masyarakat dan Pelestarian Alam

0
10
MoU Pemkab Anambas dan Anambas Foundation, Dorong Ekonomi Masyarakat dan Pelestarian Alam, Kamis (29/10/2026) (Foto:Suarasatu.co/Noven)

Suarasatu.co, Anambas – Yayasan Anambas Foundation memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas untuk mendorong pembangunan berkelanjutan melalui konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.

Sejak 2018, Anambas Foundation telah mengalokasikan dana sekitar Rp73 miliar untuk mendukung berbagai program di Kepulauan Anambas.

Yayasan ini juga mempekerjakan sekitar 92 staf dan pekerja lapangan, dengan 74 persen di antaranya merupakan putra daerah.

Ketua Yayasan Anambas Foundation, Devina Mariskova, mengatakan pihaknya telah bekerja di Kabupaten Kepulauan Anambas selama delapan tahun.

Namun, selama periode tersebut, yayasan belum memiliki nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan pemerintah kabupaten.

Menurut Devina, keberadaan MoU menjadi landasan formal untuk memperluas kerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD) dan pemerintah desa.

Dengan demikian, berbagai program yang dijalankan dapat lebih terarah dan selaras dengan kebijakan pembangunan daerah.

“Selama delapan tahun bekerja di Kabupaten Kepulauan Anambas, kami melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan, baik dari sisi konservasi lingkungan maupun pemberdayaan masyarakat. Melalui nota kesepahaman dengan pemerintah daerah, kami berharap kerja sama dengan OPD dan pemerintah desa bisa berjalan lebih terarah, memiliki landasan formal, serta selaras dengan kebijakan pembangunan Kabupaten Kepulauan Anambas,” kata Devina, Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, Anambas Foundation memiliki tiga fokus utama, yakni konservasi hutan, konservasi darat, dan pemberdayaan masyarakat.

Ketiga bidang tersebut sejalan dengan arah pembangunan daerah, tetapi yayasan lebih banyak bergerak langsung di tingkat desa untuk memastikan kebijakan dapat diterapkan oleh masyarakat.

Menurut Devina, tantangan pembangunan bukan hanya menyusun kebijakan dan peraturan, melainkan juga memastikan pelaksanaannya berjalan efektif di lapangan.

Masyarakat membutuhkan pendampingan, keterampilan, dan pengetahuan agar mampu mengembangkan potensi yang ada secara mandiri.

“Anambas Foundation memiliki tiga fokus utama, yaitu konservasi hutan, konservasi darat, dan pemberdayaan masyarakat. Kami ingin menjembatani kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat di tingkat desa. Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan dana, tetapi juga pendampingan, keterampilan, dan pengetahuan agar mampu mengembangkan potensi yang ada secara mandiri,” ujarnya.

Selain menjalankan program konservasi dan pemberdayaan, Anambas Foundation turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Dari sekitar 92 staf dan pekerja lapangan yang dimiliki, sebagian besar bertugas di desa-desa mitra, sementara lainnya bekerja di kantor yayasan di Batam.

Para pekerja tersebut terlibat dalam berbagai bidang, mulai dari pengelolaan sampah, pemberdayaan perempuan, pengelolaan fasilitas desa, bank sampah.

Sebagian lainnya bertugas sebagai ranger untuk membantu melindungi habitat penyu dan memantau kondisi terumbu karang.

Devina menilai, keterlibatan warga lokal menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan juga dapat menciptakan peluang ekonomi tanpa harus dibatasi latar belakang pendidikan tertentu.

“Saat ini, kami memiliki sekitar 92 staf dan pekerja lapangan, dengan 74 persen di antaranya merupakan putra daerah Anambas. Bagi kami, pelestarian lingkungan juga harus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Melalui pelatihan dan pendampingan, kami berharap masyarakat dapat menjadi penggerak perubahan di desanya, mulai dari pengelolaan sampah hingga perlindungan habitat penyu dan terumbu karang,” katanya.

Ia mencontohkan pengelolaan sampah yang dapat menjadi sumber penghasilan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.

Warga yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tersebut di rumah dan menyebarkannya kepada lingkungan sekitar.

Menurutnya, para pekerja lokal yang telah mendapatkan pelatihan dapat menjadi local champions atau penggerak perubahan di lingkungan masing-masing.

Pengetahuan yang mereka peroleh diharapkan berkembang dari rumah tangga ke tetangga hingga menjangkau masyarakat dalam satu desa.

Dalam menjalankan berbagai programnya, Anambas Foundation telah mengalokasikan dana dengan total sekitar Rp73 miliar sejak 2018.

Devina menjelaskan, pendanaan tersebut berasal dari sejumlah sumber, di antaranya dukungan para patron, perusahaan swasta, program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), serta hibah dari berbagai lembaga, termasuk dari luar negeri.

Hibah tersebut umumnya mendukung program pelestarian penyu, hutan, terumbu karang, dan pemberdayaan masyarakat.

Devina menegaskan, angka Rp73 miliar merupakan akumulasi pendanaan selama delapan tahun, bukan dana yang disalurkan dalam satu tahun.

Besaran pendanaan setiap tahunnya juga dapat berubah sesuai dukungan yang diterima.

Sebagian dana digunakan untuk kebutuhan operasional yayasan, sedangkan sebagian besar lainnya dialokasikan untuk pelaksanaan program yang menyentuh masyarakat dan lingkungan.

Ke depan, Anambas Foundation berupaya memperkuat program berbasis penelitian agar kegiatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat lebih tepat sasaran.

Untuk itu, yayasan menjalin kerja sama riset dengan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH).

Salah satu penelitian yang sedang berjalan berkaitan dengan pelacakan pergerakan penyu.

“Penelitian ini bertujuan mengetahui jalur pergerakan penyu sekaligus mengidentifikasi kondisi lingkungan yang berpotensi mengancam kelangsungan hidup satwa,” jelasnya.

Devina menjelaskan, keberadaan penyu dapat menjadi salah satu petunjuk untuk memahami kondisi ekosistem laut.

Karena itu, penelitian tersebut diharapkan mendukung upaya menjaga kelestarian perairan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.

“Kami juga ingin pembangunan Anambas ke depan semakin berorientasi pada ekonomi biru, yaitu mengembangkan potensi laut tanpa merusak lingkungan. Karena itu, kami bekerja sama dengan UMRAH untuk memperkuat program berbasis penelitian, termasuk riset pergerakan penyu. Harapan kami, kolaborasi antara pemerintah, desa, yayasan, dan sektor swasta dapat menjadi contoh pembangunan berkelanjutan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga alam,” ujar Devina.

Sementara itu, Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu, menyambut baik kerja sama antara pemerintah daerah dan Anambas Foundation.

Ia menilai pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya mengandalkan pemerintah.

“Kami menyambut baik kerja sama dengan Anambas Foundation. Membangun Kabupaten Kepulauan Anambas tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi dengan berbagai lembaga, organisasi, pemerintah desa, dan pihak swasta agar potensi daerah dapat dikembangkan secara optimal dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” kata Raja Bayu.

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut sejalan dengan arah pembangunan pemerintah daerah, terutama peningkatan kualitas sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Menurut Raja Bayu, kolaborasi dengan Anambas Foundation diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program pembangunan sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam mengelola potensi daerah.

“Kerja sama ini diharapkan dapat mendukung arah pembangunan daerah, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya alam, sumber daya manusia, dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Kami ingin berbagai potensi yang dimiliki Anambas dapat dikelola dengan baik sehingga mampu membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Raja Bayu menyebut sektor perikanan dan pariwisata sebagai dua potensi utama yang dapat dikembangkan di Kepulauan Anambas.

Kedua sektor tersebut perlu dikelola dengan memperhatikan kelestarian lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Anambas memiliki potensi besar di sektor perikanan dan pariwisata. Kedua sektor ini perlu dikembangkan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Kami berharap kehadiran Anambas Foundation dapat membantu mendorong pengelolaan potensi tersebut secara berkelanjutan, sehingga kekayaan alam yang kita miliki tetap terjaga dan dapat memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” kata Raja Bayu.

Pengembangan ekonomi biru dinilai relevan dengan karakteristik Anambas sebagai wilayah kepulauan yang memiliki kekayaan laut dan potensi perikanan besar.

Pendekatan ini mendorong pemanfaatan sumber daya laut untuk kegiatan ekonomi dengan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem.

Raja Bayu berharap kerja sama tersebut dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat, baik melalui pemberdayaan ekonomi maupun pelestarian lingkungan.

“Melalui kerja sama ini, kami berharap program-program yang dijalankan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat, baik melalui pemberdayaan ekonomi maupun pelestarian lingkungan. Pemerintah daerah terbuka terhadap kolaborasi yang sejalan dengan tujuan pembangunan Anambas, agar daerah ini semakin berkembang tanpa mengabaikan keberlanjutan sumber daya alamnya,” tuturnya. (Ven)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini