Warga Anambas Keluhkan Listrik Padam dan Tegangan Naik-Turun, PLN Ungkap Penyebabnya

0
10
Perwakilan warga Siantan Anambas memprotes gangguan pemadaman listrik yang terjadi berulang ke kantor ULP PLN Anambas, Sabtu (15/8/2026) (Suarasatu.co/Noven)

Suarasatu.co, Anambas – Kesabaran warga di Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, akhirnya memuncak.

Puluhan warga mendatangi Kantor PLN ULP Anambas di kawasan Tarempa, Sabtu (15/8/2026) malam, untuk meminta penjelasan terkait pemadaman listrik yang dinilai semakin sering terjadi serta kondisi tegangan listrik yang naik-turun.

Sekitar pukul 22.00 WIB, halaman kantor PLN dipenuhi warga. Massa bahkan meluber hingga ke sisi jalan.

Situasi tersebut membuat personel Polsek Siantan turun tangan untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Warga yang datang berasal dari sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Desa Tarempa Selatan, Tarempa Barat, Desa Sri Tanjung, dan Kelurahan Tarempa.

Mereka tidak hanya mempersoalkan listrik yang padam tanpa pemberitahuan, tetapi juga khawatir tegangan yang tidak stabil dapat merusak peralatan elektronik di rumah.

Salah seorang warga, M. Kasim, mengatakan kedatangan mereka ke kantor PLN merupakan bentuk keresahan yang sudah berlangsung cukup lama.

“Kami sudah resah. Kami datang ke sini mau meminta penjelasan. Ini juga sesuai ketika kami hubungi hotline PLN ULP Anambas, jawabnya kalau mau tahu permasalahannya silakan datang ke kantor. Oleh karena itu malam ini kami datang,” kata Kasim.

Menurut dia, pemadaman yang terjadi hampir setiap hari membuat masyarakat kesulitan menjalankan aktivitas.

Kekesalan warga, kata Kasim, semakin memuncak ketika listrik tidak hanya padam, tetapi juga mengalami penurunan dan kenaikan tegangan.

“Tadi puncak dari kekesalan kami karena daya listrik di rumah turun naik. Lampu ada yang kedap-kedip, ada yang langsung padam. Begitu juga barang elektronik rumah tangga tidak normal,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menimbulkan kekhawatiran peralatan elektronik milik warga mengalami kerusakan.

“Kondisi ini kan bisa membuat barang-barang elektronik rumah tangga warga rusak. Kalau sudah rusak, siapa yang mau bertanggung jawab?,” ucapnya.

Warga juga meminta PLN menjelaskan penyebab utama gangguan listrik yang terus terjadi, termasuk langkah yang disiapkan untuk mengatasinya dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Kasim bahkan mempertanyakan kebijakan PLN yang masih menawarkan program peningkatan daya kepada pelanggan di tengah keluhan mengenai kemampuan pasokan listrik.

“Kalau memang permasalahannya itu karena daya listrik kurang, mengapa PLN masih mempromosikan peningkatan daya buat pelanggan dengan diskon 50 persen? Kalau memang daya listrik kita ini sudah tidak mampu, kenapa harus ada promosi itu?” ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Purnama.

Ia menilai alasan gangguan jaringan akibat pohon atau hewan perlu dijelaskan secara lebih rinci, terutama karena sejumlah pemadaman justru terjadi pada dini hari.

“Kalau memang karena faktor jaringan yang tertimpa pohon atau tersangkut hewan kelelawar atau apalah itu, kami rasa di Desa Tarempa Barat ini kecil kemungkinan itu penyebabnya. Bisa dilihat sendiri, kawasan Tarempa Barat ini untuk pohon-pohon rimbun tidak ada,” kata Purnama.

Ia mengatakan pemadaman bahkan beberapa kali terjadi sekitar pukul 01.00 atau 02.00 WIB hingga menjelang pagi.

“Selalu jam itu sampai jam 4. Bahkan pernah dua malam berturut-turut mati tanpa adanya jadwal pemadaman,” sebutnya.

Purnama juga menyoroti ketidaksesuaian antara jadwal pemadaman yang diumumkan PLN dengan kondisi di lapangan.

Menurut dia, warga sebenarnya sudah berupaya mengantisipasi pemadaman dengan mematikan sejumlah peralatan elektronik. Namun, jadwal yang berubah-ubah membuat upaya tersebut menjadi sulit dilakukan.

“Saya sudah berapa kali lihat, khususnya di Desa Tarempa Barat sendiri, dijadwalkan padam hari Minggu jam 1. Ujung-ujungnya jam 1 tidak mati, tahu-tahunya malam dia mati,” katanya.

“Kami ini sudah standby, matikan AC, matikan kulkas buat jaga barang agar tidak rusak,” tambahnya.

PLN: Gangguan Berasal dari Jaringan

Menanggapi keluhan warga, Manajer PLN ULP Anambas, Fachri, mengatakan dirinya langsung turun ke lapangan setelah mengetahui kondisi tegangan listrik mengalami penurunan.

Ia mengaku mendatangi PLTD Pasir Manang dan meminta petugas melakukan langkah pengamanan agar penurunan tegangan tidak berlangsung lebih lama.

“Karena melihat kondisi listrik yang turun daya, saya langsung turun ke lapangan, pertama ke PLTD Pasir Manang dan mengarahkan anggota untuk memadamkan total listrik di semua wilayah daripada berlanjut drop terlalu lama,” kata Fachri.

Terkait pemadaman yang terjadi pada Sabtu malam, Fachri menyebut gangguan berasal dari jaringan.

Ia mengatakan penyebabnya dapat berupa pohon yang mengenai jaringan, kabel putus, maupun gangguan akibat hewan.

“Untuk gangguan padam malam ini itu karena gangguan jaringan. Bisa jadi karena tertimpa pohon atau kabel yang putus atau tertimpa hewan. Kalau mesin pembangkit setelah kami cek aman,” ujarnya.

Fachri menjelaskan pemeliharaan jaringan sebenarnya dilakukan secara rutin untuk menjaga keandalan pasokan listrik.

Salah satunya melalui pemangkasan pohon yang berpotensi mengganggu jaringan.

Namun, PLN masih menghadapi kendala di sejumlah titik karena ada pohon yang tidak dapat dipangkas lantaran mendapat penolakan dari pemilik lahan.

“Di sisi lain ada beberapa titik pohon yang memang tidak bisa kami pangkas karena tidak diizinkan sama warga pemiliknya. Nah, itu yang memang jadi kendala kami saat ini,” jelas Fachri.

PLN, lanjut Fachri, tengah berkoordinasi dengan perangkat desa dan kecamatan untuk membantu menyosialisasikan pentingnya pemeliharaan jaringan kepada masyarakat.

Beban Listrik 3,2 MW, Kapasitas 3,4 MW

Fachri juga menjelaskan kondisi pasokan listrik di Pulau Siantan.

Menurut dia, kemampuan daya pembangkit saat ini mencapai sekitar 3,4 megawatt, sedangkan beban listrik pelanggan berada di kisaran 3,2 megawatt.

Artinya, secara kapasitas masih terdapat selisih daya. Namun, kondisi cuaca panas turut memengaruhi kemampuan pembangkit.

“Untuk daya listrik Pulau Siantan ini 3,4 mega, sementara itu beban dari daya warga 3,2 mega. Artinya untuk kemampuan daya listrik surplus. Tetapi karena kondisi cuaca yang panas saat ini membuat suhu mesin menjadi naik sehingga kapasitas pembangkit menurun,” jelas Fachri.

Ke depan, PLN berjanji akan meningkatkan komunikasi kepada masyarakat ketika pemadaman memang harus dilakukan.

Fachri juga memastikan pemadaman bukan dilakukan tanpa alasan.

“Untuk ke depannya kami akan membuat informasi ke kawan-kawan PLTD kalau memang arahannya harus dipadamkan, ya kami akan padamkan,” katanya.

Ia menambahkan, pemeliharaan jaringan akan terus dilakukan, terutama untuk mengantisipasi gangguan yang disebabkan ranting pohon maupun hewan.

“Tidak ada unsur kesengajaan kami untuk memadamkan listrik dengan suka-suka. Pastinya itu ada sebab maka kami lakukan pemadaman. Apakah itu karena mesin yang overload, atau adanya gangguan jaringan karena hewan atau ranting pohon,” pungkasnya. (Ven)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini