
Suarasatu.co, Anambas – Pagi itu, Kamis (23/4/2026) langit Anambas tampak teduh.
Riak laut di Pelabuhan Sri Siantan, Tarempa, bergerak tenang ketika sebuah speed boat bersiap meninggalkan dermaga.
Di tengah kesibukan pelabuhan, seorang perempuan bersama rombongan pria muda melangkah cepat menuju kapal.
Ia bukan wisatawan yang datang menikmati gugusan pulau tropis dan pantai indah di Kabupaten Kepulauan Anambas.
Namanya Arie Karimah Muhammad.
Ini adalah kali pertama Arie menginjakkan kaki di wilayah perbatasan Indonesia tersebut.
Namun kedatangannya bukan untuk berlibur bak wisatawan asing Kapal Yacht, melainkan membawa misi penting dari Jakarta.
Arie merupakan Ketua Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) yang ditugaskan menelusuri dugaan keracunan massal usai ratusan pelajar dan warga menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah.
Kasus itu sempat mengguncang publik Anambas bahkan nasional dalam sepekan terakhir.
Speed boat yang ditumpangi Arie kemudian melaju membelah lautan menuju Desa Air Asuk.
Ombak kecil memecah di sisi lambung kapal, sementara angin laut terus berhembus sepanjang perjalanan.
Setibanya di lokasi, Arie disambut pihak yayasan mitra MBG, Siti Bayu dan Intan, bersama para staf dapur serta relawan.
Tanpa banyak jeda, ia langsung bergerak menuju Puskesmas Siantan Tengah.
Di ruangan sederhana fasilitas kesehatan itu, Arie berdiskusi cukup lama dengan kepala puskesmas dan tenaga medis.
Satu per satu pertanyaan diajukan. Ia tampak mencatat setiap keterangan yang diberikan.
Hampir satu jam kemudian, rombongan kembali bergerak menuju SD Negeri 001 Air Asuk.
Di halaman sekolah, suara anak-anak masih terdengar riuh. Namun di balik suasana itu, tersimpan trauma dari peristiwa yang sempat membuat banyak siswa harus menjalani perawatan.
Arie berbincang singkat dengan guru dan kepala sekolah. Ia juga menyempatkan diri mendatangi rumah salah satu siswa korban guna mendengar langsung cerita keluarga.
Tak sampai di situ, Arie dan rombongan juga turut meninjau dapur MBG Air Asuk.
Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi dapur, mulai dari area produksi, pemorsian makanan hingga pengelolaan limbah.
Selain itu, ia juga memberikan bekal edukasi dan sosialisasi tentang penanganan teknis bagi pihak yayasan dan mitra, staf SPPG hingga para relawan.
Bagi Arie, investigasi tak cukup hanya dari meja rapat atau berkas laporan. Semua harus dilihat langsung.
Meski cuaca mulai berubah dan perjalanan laut cukup panjang, tim investigasi masih melanjutkan agenda ke RSUD Palmatak, Kecamatan Kute Siantan.
Rumah sakit itu menjadi tempat utama penanganan para korban saat insiden terjadi.
Di sana, Arie kembali berdiskusi dengan tenaga kesehatan dan manajemen rumah sakit untuk menyusun potongan-potongan informasi yang dibutuhkan.
“Kami dari BGN tetap mengumpulkan data primer. Jadi kami harus mengumpulkan dari dapur pembuatan makanan hingga pihak yang menangani korban secara langsung,” ujar Arie saat diwawancara awak media.
Ia menegaskan tim juga menelusuri keberadaan sampel makanan yang diuji laboratorium.
“Kami ingin tahu sampel makanan itu dikirim ke mana dan siapa yang menguji, agar kami tahu penyebabnya apa,” katanya.
Menurut Arie, kesimpulan akhir belum bisa disampaikan sebelum hasil laboratorium dari BPOM keluar.
“Informasi yang saya dapat dari Dinas Kesehatan Anambas, hari Selasa depan BPOM akan mengeluarkan hasilnya. Di hari itu juga kami dari BGN akan merilis resmi penyebab keracunan di Anambas,” ujarnya.
Hasil investigasi tersebut nantinya akan menjadi dasar apakah SPPG Air Asuk dapat kembali beroperasi atau masih harus melakukan pembenahan.
Di balik upaya mencari penyebab kejadian, Arie menaruh perhatian pada kondisi psikologis para siswa.
“Dari pantauan dan informasi yang kami dapatkan, anak-anak para pelajar ini dominan trauma. Mereka perlu kami tangani psikisnya dengan baik,” ucapnya.
Ia menyebut RSUD Palmatak, kepolisian, dan jajaran pendidikan siap membantu proses trauma healing bagi para pelajar.
Arie juga memastikan biaya pengobatan korban yang ditanggung telah menjadi bentuk tanggungjawab baik dari pihak yayasan maupun BGN.
“Sebenarnya apakah ada kewajiban kalau bicara santunan. Nah kan tidak ada, tetapi sebagai bentuk tanggungjawab dan etika yang dimaksud, seluruh biaya rumah sakit dan obat yayasan atau BGN yang nanggung. Itu yang kami sampaikan ke pihal keluarga supaya tak perlu khawatir,” pungkasnya.(Ven)
















