Polemik Penanganan Pasien Adran, Direktur RSUD Palmatak Jelaskan Duduk Perkaranya

0
303
Direktur RSUD Palmatak Iswarijaya saat memimpin evaluasi bersama tenaga kesehatan dan tenaga medis dalam polemik dugaan salah pemberian obat belum lama ini. (Foto:Suarasatu.co/istimewa)

Suarasatu.co, Anambas – Direktur RSUD Palmatak, Iswarijaya, akhirnya buka suara terkait polemik dugaan salah pemberian obat terhadap seorang pasien sekaligus staf rumah sakit, Adran.

Ia mengakui adanya kelalaian petugas saat menangani pasien, namun menegaskan kasus tersebut bukan salah pemberian obat, melainkan kesalahan dalam cara pemberiannya.

“Versi kami bukan salah pemberian obat, tetapi salah cara pemberian obat. Obatnya tetap salbutamol, hanya bentuk sediaannya yang keliru,” kata Iswarijaya saat memberikan klarifikasi.

Ia menjelaskan, resep dokter sebenarnya berisi salbutamol tablet. Namun, petugas jaga justru memberikan salbutamol injeksi melalui infus karena salah menafsirkan tulisan pada resep.

“Di resep tertulis salbutamol tablet empat butir dengan angka Romawi ‘IV’. Petugas mengartikannya sebagai intravena atau pemberian melalui infus. Itu murni kelalaian karena tidak membaca resep secara teliti,” ujarnya.

Menurut Iswarijaya, secara fungsi kedua obat tersebut sama karena sama-sama mengandung salbutamol. Perbedaannya hanya pada bentuk sediaan dan cara penyerapannya di dalam tubuh.

“Tablet diminum sehingga penyerapannya lebih lambat, sedangkan injeksi bekerja lebih cepat. Soal efek yang dirasakan pasien, itu ranah dokter untuk menjelaskannya,” katanya.

Atas kelalaian tersebut, manajemen RSUD Palmatak telah menjatuhkan sanksi kepada petugas yang bertugas saat kejadian.

Petugas tersebut tidak lagi dijadwalkan dinas sore maupun malam dan untuk sementara hanya bertugas pada shift pagi agar dapat berada di bawah pengawasan yang lebih ketat.

“Kami tempatkan di shift pagi supaya pengawasannya lebih maksimal dan yang bersangkutan bisa lebih fokus dalam bekerja,” ucapnya.

Selain menanggapi dugaan kesalahan pemberian obat, Iswarijaya juga mengungkapkan adanya perbedaan informasi mengenai penyebab awal kondisi yang dialami Adran.

Ia mengatakan, pihak rumah sakit masih meragukan informasi bahwa korban mengalami gigitan ular. Keraguan itu muncul setelah rekan kerja Adran yang berada di lokasi kejadian memberikan keterangan berbeda.

“Teman korban menyampaikan bahwa sebelum bekerja mereka sempat menemukan dan membunuh tiga anak kalajengking. Saat kejadian juga tidak ada ular yang terlihat. Menurut keterangannya, Adran tergigit anak kalajengking ketika hendak membalikkan batang kelapa setelah proses penebangan hampir selesai,” jelasnya.

Meski demikian, Iswarijaya menegaskan rumah sakit tetap memberikan penanganan maksimal sejak Adran menjalani perawatan hingga diperbolehkan pulang.

“Karena yang bersangkutan juga merupakan staf kami, kondisinya dipantau setiap hari. Setelah pulang pun saya bersama dokter dan perawat datang menjenguk sekaligus melakukan pemeriksaan,” katanya.

Ia menambahkan, karena keterbatasan fasilitas medis di RSUD Palmatak, dokter akhirnya menyarankan Adran dirujuk ke RS Otorita Batam untuk mendapatkan penanganan dari dokter spesialis jantung.

Terkait laporan yang telah diajukan Adran kepada pihak kepolisian, Iswarijaya mengatakan pihak rumah sakit menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan siap memberikan keterangan maupun dokumen yang diperlukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Kami menghormati proses hukum yang sedang berlangsung dan akan bersikap kooperatif apabila dimintai keterangan. Harapan kami persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai mekanisme yang berlaku tanpa mengganggu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Apabila masih memungkinkan diselesaikan melalui musyawarah atau pendekatan kekeluargaan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan seluruh tenaga kesehatan dan tenaga medis di RSUD Palmatak agar menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), standar pelayanan, budaya keselamatan pasien, serta kode etik profesi.

“Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kami semua untuk terus meningkatkan ketelitian, profesionalisme, serta kepatuhan terhadap SOP dalam setiap pelayanan yang diberikan. Kami berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan demi menjaga mutu pelayanan dan keselamatan pasien,” tutupnya. (Ven)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini