SPPG Tarempa Barat Salurkan Sisa Makanan MBG ke Peternak, Kurangi Limbah dan Bantu Warga

0
7
Sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Tarempa Barat, Kabupaten Kepulauan Anambas, tidak berakhir di tempat sampah. (Foto:Suarasatu.co/Noven)

Suarasatu.co, Anambas – Sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Tarempa Barat, Kabupaten Kepulauan Anambas, tidak berakhir di tempat sampah.

Setiap hari, sisa makanan yang masih layak dimanfaatkan dikumpulkan, didata, kemudian diberikan secara gratis kepada warga yang memiliki ternak.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya SPPG untuk meminimalkan limbah makanan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Sejauh ini, sedikitnya lima warga menjadi penampung tetap sisa makanan MBG untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Kepala SPPG Desa Tarempa Barat, Mesy Arsita, mengatakan seluruh sisa makanan terlebih dahulu melalui proses penyortiran sebelum diserahkan kepada warga.

Proses itu dilakukan setelah ompreng atau wadah makan dikembalikan dari sekolah.

“Saat waktu penjemputan ompreng dari sekolah, kami sortir dulu menurut jenisnya, lalu kami timbang dan buat laporan harian ke pusat,” kata Mesy, Minggu (19/7/2026).

Menurutnya, pendataan tersebut merupakan bagian dari pelaporan rutin yang wajib dilakukan setiap hari.

Setelah seluruh proses administrasi selesai, warga yang telah terdata sebagai penampung datang langsung ke dapur SPPG untuk mengambil sisa makanan.

“Nanti sorenya, para penampung datang ke dapur untuk mengambil sisa makanannya. Jadi sisa makanan ini tidak dibuang, tetapi masih memiliki nilai manfaat bagi masyarakat yang memiliki ternak,” ujarnya.

Mesy menjelaskan, warga yang mengambil sisa makanan tersebut memanfaatkannya untuk berbagai jenis usaha peternakan.

“Setahu saya ada yang beternak ayam, ikan, dan maggot,” ungkapnya.

Ia menambahkan, volume sisa makanan MBG di SPPG Desa Tarempa Barat sebenarnya tidak terlalu besar. Namun, jumlahnya dapat berubah bergantung pada menu yang disajikan kepada para siswa.

“Sejauh ini sisa makanan di tempat kami rata-rata tidak begitu banyak. Tetapi itu tergantung juga dengan menu yang disajikan. Biasanya kalau menu ayam sisanya sedikit, tetapi kalau menunya ikan sisanya lebih banyak karena anak-anak sudah mulai bosan. Di sini kan ikan memang cukup mudah ditemukan,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Mesy, menjadi salah satu bahan evaluasi bagi penyelenggara agar variasi menu tetap menarik sehingga makanan yang disajikan dapat dikonsumsi secara optimal oleh para siswa.

Sementara itu, salah seorang peternak yang menjadi penampung sisa makanan MBG, Ferengky, mengaku program tersebut cukup membantu mengurangi biaya pakan ternak yang dikelolanya.

“Kalau buat kami tentu sangat membantu. Sisa makanan ini masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, jadi mengurangi biaya pakan yang biasanya harus kami beli. Daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan,” katanya.

Selain memberikan manfaat secara ekonomi, pemanfaatan sisa makanan juga dinilai mampu mengurangi limbah makanan yang masih memiliki nilai guna.

Menurutnya, selama sisa makanan masih layak dimanfaatkan, keberadaannya akan lebih bermanfaat jika digunakan sebagai pakan ternak dibandingkan harus dibuang begitu saja.

Program tersebut pun menjadi contoh sederhana bagaimana sisa makanan dapat dikelola secara lebih bijak dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. (Ven)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini