Tak Sekadar Tingkatkan Gizi, Program MBG Bantu Peternak Anambas Tekan Biaya Pakan

0
4
Peternak di Desa Temburun, Erwin, mengaku memanfaatkan sisa makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Anambas Inn di Tarempa sejak awal tahun 2026, Rabu (5/8/2026) (Foto:Suarasatu.co/istimewa)

Suarasatu.co, Anambas – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh para pelajar, ibu hamil, dan balita sebagai penerima manfaat.

Di Kabupaten Kepulauan Anambas, program tersebut juga membawa dampak ekonomi bagi peternak melalui pemanfaatan sisa makanan yang diolah kembali menjadi pakan ternak.

Salah seorang peternak di Desa Temburun, Erwin, mengaku telah memanfaatkan sisa makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Anambas Inn di Tarempa sejak awal tahun 2026.

Setiap hari, ia mengambil sisa bahan makanan yang tidak lagi digunakan dalam proses penyediaan menu MBG.

Menurut Erwin, bahan yang diambil bukan makanan yang masih layak disajikan kepada masyarakat, melainkan sisa nasi, lauk, potongan sayuran, hingga rempah-rempah hasil proses pengolahan makanan.

“Sejak MBG di Tarempa buka saya sudah ambil sisa makanan dan rempah. Januari lah. Saya ambilnya di SPPG Anambas Inn, jadi setiap hari kami mengambil. Jadi bukan hanya bermanfaat untuk pelajar, MBG ini bermanfaat juga untuk peternak seperti kami,” ujar Erwin, Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan, seluruh bahan tersebut tidak langsung diberikan kepada ternak.

Sebelum digunakan, sisa makanan dipilah terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan sejumlah bahan lain agar kandungan nutrisinya tetap seimbang.

Campuran pakan itu terdiri atas sisa makanan MBG, potongan sayuran, air bekas mencuci ikan, pakan konsentrat (pur), ampas tahu, dan ampas kelapa.

Setelah semua bahan tercampur, adonan dimasak hingga matang sebelum didinginkan dan diberikan kepada ternak.

“Kita masak lagi, tidak langsung kasih begitu saja. Dimasak kembali dengan campuran makanan bekas MBG, sayur-sayuran, dicampur pur, ampas tahu dan ampas kelapa,” katanya.

Menurut Erwin, proses pemasakan menjadi tahapan penting karena dapat membantu menjaga kualitas pakan sekaligus meminimalkan risiko bakteri yang berpotensi mengganggu kesehatan ternak.

Pemanfaatan limbah makanan tersebut, kata dia, juga berdampak langsung terhadap biaya produksi peternakannya.

Sebelum memperoleh pasokan sisa makanan dari dapur MBG, ia menghabiskan sekitar Rp5 juta setiap bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan pakan.

Kini, ketergantungan terhadap pakan komersial berkurang sehingga pengeluaran dapat ditekan cukup signifikan.

“Kalau dihitung-hitung, biaya pakan sekarang jauh lebih ringan. Bisa hemat sampai sekitar 40 persen dibanding sebelumnya,” ungkapnya.

Saat ini Erwin memelihara sekitar 410 ekor unggas yang terdiri dari 160 ekor entok, 100 ekor ayam kampung, dan 150 ekor ayam kampung unggul.

Ia berharap program MBG dapat terus berlanjut karena manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat penerima makanan bergizi, tetapi juga mampu mengurangi limbah pangan sekaligus membantu peternak menekan biaya produksi.

Bagi Erwin, pemanfaatan sisa makanan dari dapur MBG menjadi contoh kolaborasi yang memberikan manfaat berantai.

Selain mendukung upaya pengurangan limbah makanan, skema tersebut juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi peternak lokal tanpa mengurangi tujuan utama program dalam meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat. (Ven)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini